Feeds:
Tulisan
Komentar

BUAYA TELAH NAIK KE DARAT

Buaya-buaya telah naik ke darat
Berkeliaran mencari bangkai
Ada buaya makan bangkai sendirian
Tidak kurang juga merebut bangkai secara bersama
Mereka berkelahi merebut makanan
Bergigitan sesama sendiri hendak monopoli
Bertarung begitu sengit
Yang kuat menguasai
Yang kalah membawa diri
Tidak puas hati
Waktu bangkai masih mewah,
yang lemah masih boleh cari makan
Serpihan-serpihan bangkai sana-sini senang dicari
Waktu bangkai terbatas
Yang kenyang sang buaya yang gagah, seorang diri
Yang lemah bertempiaran lari
Kalah bertarung dengan sang gagah
Lari membawa dendam, tidak puas hati
Kecewa dengan sang gagah
Menguasai bangkai tanpa berkongsi
Malas membuat kerja
sekalipun beribadat kepada Tuhannya

Nikmat dan Ujian

Semua orang, beriman atau kufur, tetap diuji dan diberi nikmat
Bedanya yang mukmin nikmat diberi dengan redha-Nya
yang kufur diberi  nikmat bukan dengan redha-Nya
h sayang, bukan dengan nikmat yang sebenarnya
tetapi diberi atas sifat-Nya yang Rahman semata-mata
sifat Tuhan di atas dunia ini sahaja, bukan di akhirat sana

Bagi yang kufur, nikmat yang diterima dianggap sebagai nikmat
Ujian yang diterima, dianggap sebagai ujian
Bagi Tuhan, nikmat yang diberi-Nya kepada yang kufur adalah penghinaan
untuk menambah jauh dia daripada-Nya
atau untuk menambah penghinaan kepadanya
atau untuk menambah lagi azab yang bakal diterimanya kelak

Bagi Tuhan, ujian yang diberi-Nya kepada mereka yang kufur
adalah untuk menjauhkan lagi Dia daripada mereka
selain untuk menambah beratnya azab yang mereka akan terima
Itu yang mereka tidak pernah faham selama-lamanya
sebab bagi mereka, setiap ujian yang diterima
dianggap sebagai penghinaan kepada mereka

Mereka tidak pernah bersedia untuk diuji,
walaupun dalam keadaan mereka cukup bersedia menerimanya
mereka hanya bersedia menerima nikmat sahaja
itupun nikmat yang diterima senantiasa dirasakan tidak cukup
tidak pernah cukup sampai kapanpun

Itu tanda nikmat Tuhan yang diterima bukan diberi dengan redha
bukan dengan kasi

Mereka tidak paham bahawa ujian yang mereka terima itu adalah penghinaan
itu adalah penambah azab yang bakal mereka terima
hanya sedikit ujian dan nikmat yang diberi-Nya kepada mereka
untuk menyedarkan semula mereka tentang kekuasaan diri-Nya

Yang paling ajaib dalam hal ini ialah seorang mukmin
setiap ujian dirasanya seperti nikmat yang tidak terhingga
terasa lazat apabila diberi nikmat
malu mereka hendak mengatakannya sebagai ujian
sebab nikmat ujian itu sangat besar sehingga tidak dirasakan sebagai ujian
lebih dirasakan sebagai kasih sayang Tuhan kepada mereka
sebab itu malu mereka mengatakannya sebagai ujian

Begitu pula apabila diberi nikmat, baik yang kecil mahupun yang besar
mereka rasakan itu sebagai ujian, walhal pada orang lain itu nikmat semata-mata

Akhirnya pada mereka, baik ujian mahupun nikmat
tidak dapat dibedakan lagi
sebab setiap ujian itu merupakan nikmat pada mereka
dan setiap nikmat itu merupakan ujian pada mereka
setiap yang datang itu merupakan kasih sayang Tuhan pada mereka

Tanpa ujian siapalah mereka
tanpa nikmat siapalah mereka
setiap ujian dan nikmat yang datang
merupakan tanda bahwa Tuhan masih ingat kepada mereka
masih sayang kepada mereka

Mereka sangat memerlukan ujian dan nikmat silih berganti
dalam setiap ujian ada nikmat, dan dalam nikmat ada ujian
kedua-duanya bersatu dalam satu pakej khusus
susah hendak dibedakan antara nikmat dan ujian

Kedua-duanya sangat diperlukan
untuk menguatkan hati agar tidak hanyut dibuai arus dunia yang ganas
agar tidak ditarik syaitan dari jalan yang benar

Kalau tidak datang ujian walau hanya tiga hari saja
hati mereka terus dilanda gelisah dan gundah
apakah Tuhan sudah melupakan aku?
hati mereka merintih-rintih, mana ujian Tuhan yang hendak diberi kepadaku?
perasaan mereka menanti-nanti bila tibanya ujian dan nikmat itu

Apabila datang, itulah tanda kasih sayang Tuhan telah datang kepada mereka
diterima dengan penuh sabar, syukur, redha, tawakal, qana’ah dan ikhlas
tidaklah Tuhan telah melupakan mereka
tanda Tuhan masih sayang dengan mereka, masih ingat pada mereka

* Sajak2 Syeikh Malaya

 

Masyarakat Madani (1)

Masyarakat madani ialah masyarakat Islam yang maju atau bertamadun. Ia maju karena anggota-anggota di dalam diri umat Islam itu dapat dibangunkan atau dimajukan berdasarkan iman atau akidah atau tauhid.

·     Akalnya dapat dibangunkan dengan bermacam-macam ilmu yang   memberi manfaat sama ada ilmu Akhirat mahupun ilmu dunia yang bermacam-macam cabangnya. Dipenuhi pula dengan pengalaman-pengalaman.

·         Jiwanya dapat dibangunkan rasa tauhid atau rasa bertuhan, sifat ikhlas, kasih sayang, pemurah, berani, sabar, tawakal, lapang dada, bertolak ansur, redha, qanaah dan zuhud.

·         Nafsunya dapat dibangunkan (dibersihkan daripada nafsu ammarah kepada lawwamah seterusnya mulhamah, mutmainnah, radhiah, mardhiah dan kamilah). Paling tidak, dapat dibangunkan kepada nafsu mulhamah. Di sini sudah sampai kawasan selamat. Lebih daripada itu ia merupakan subsidi dari Allah yaitu derajat-derajat dan pangkat-pangkat yang lebih tinggi lagi di kalangan orang mukmin.


Membangunkan jiwa dan nafsu ini, ia bersifat rohaniah. Kemudian anggota lahirnya (jawarih) dapat membangunkan kemajuan fizikal berpandukan ilmu dan bertunjangkan iman. Di antaranya ialah membangunkan keperluan-keperluan kehidupan dunia yang bersifat material seperti makan minum yang sebaik mungkin, tempat tinggal dan tempat kerja yang secanggih mungkin. Juga dapat membangunkan kemudahan-kemudahan hidup seperti jalan raya yang baik, kendaraan yang canggih mengikut zamannya, alat-alat senjata yang canggih dan seimbang atau lebih untuk keperluan waktu itu demi mempertahankan maruah agama, bangsa dan tanah air dari serangan-serangan musuh.

Kalau begitu, masyarakat madani adalah satu masyarakat yang wujud begitu unik, indah, menyenangkan dan selesa karena di dalamnya penuh dengan sifat-sifat dan ciri-ciri ukhwah, kasih sayang, timbang rasa, rasa bersama, bekerjasama, menyenangkan, bersatu padu, bertolak ansur, maaf-bermaafan, doa-mendoakan, bertolong bantu, pemurah dan berani. Di sudut kerohaniannya, berdisiplin dan bersih daripada dosa serta noda. Kalau berlaku pun terlalu sedikit atau ada tetapi tidak dapat dilihat karena ia telah tenggelam dengan pahala atau kebaikan yang tercetus dari masyarakat Islam.

Anggota masyarakatnya benar-benar hidup di dalam suasana aman makmur, maju, membangun, berkemudahan di dalam serba-serbi, makan minum cukup atau bisa jadi mewah, pakaian serba ada, tempat tinggal nyaman, perhubungan mudah, perdagangan, industri, pertanian dan pendidikan maju.

Semua orang punya pekerjaan. Tidak ada orang yang menganggur. Mudah beragama, senang mencari rezeki, mudah belajar, tempat- tempat perawatan penyakit banyak dan menyenangkan. Maruah agama, bangsa dan negara terjaga. Semua aspek hak-hak asasi manusia terjamin. Ia dijaga dan dipertahankan. Siapa yang merusaknya diadili dan dihukum setimpal dengan kesalahannya.

Manusia merasa bebas membuat aktivitas. Namun di dalam kebebasan itu tidak pula melanggar peraturan dan tidak merusakkan hak asasi manusia. Manusia aktif tetapi berdisiplin. Rajin tidak pula sampai melanggar etika masyarakat. Di dalam maju, suasana tenang. Di dalam kesibukan, tidak ada pelanggaran undang-undang. Bertemu, bergaul, berbincang, bermesyuarat, bercakap tetapi dengan penuh sopan serta tawaduk. Tidak ada orang yang berlagak. Di dalam suasana hormat-menghormati, jaga-menjaga, ingat-mengingati, tegur-menegur, sayang-menyayangi. Berlomba-lomba membuat kemajuan dan kebaikan tetapi tidak ada dengki. Ia bersifat selamat dan menyelamatkan.

Sebenarnya kaedah dan cara untuk membangunkan masyarakat madani sudah pun dijelaskan oleh ajaran Islam, melalui Al Quran dan Sunnah. Gambaran secara realitinya dan amali yang telah berlaku pula telah dipaparkan oleh buku-buku sejarah. Oleh itu hari ini kita bukan hendak mencari-cari kaedah dan bentuk masyarakat. Kaedah telah ada. Al Quran dan Sunnah cukup terang tentang itu. Gambaran masyarakat yang wujud sekitar 3 kurun, jelas sekali telah dipaparkan oleh buku-buku sejarah.

Apakah yang patut kita buat? Yang patut kita buat ialah mengusahakan supaya orang-orang Islam mahu memperjuangkannya, menggesa agar umat Islam boleh menerima kaedah itu dan bagaimana agar sampai gambaran masyarakat Islam (masyarakat madani) itu boleh diterima oleh umat Islam.

 

dikutip dari “Catatan Kuliah Abuya”

Kenanglah dosa-dosa yang lalu

Dan mohon ampun kepada Tuhan

Karena Tuhan tidak melupakannya

Awas, jangan buat dosa di masa depan

Karena di waktu ini kita mungkin hampir kepada Tuhan

Sepatutnya makin hampir kepada  Tuhan Makin bersih dari dosa

Jagalah waktu yg makin sedikit

Isilah dengan hal2 yg berfaedah

Tanda kita menyesal dengan waktu yg sudah

Ingatlah Tuhan setiap waktu

Karena kematian kita tdk tau

Jika tiba kematian kita tdk lupa dengan Tuhan

Jangan menzalimi manusia

Karena penzaliman di dunia saja sdh dibalas Tuhan

Apalagi di akhirat memang tidak lepas dari hukuman

Buatlah berbagai kebaikan

Sekalipun kecil karena ikhlas

Selalu kita lupakan

Karena amal kebaikan disuruh lupakan

Kejahatan harus diingat

Agar menyesal dan bertaubat

Siap siagalah selalu dengan kematian

Karena kapan saja bisa berlaku

Dan tidak memilih umur

Dan jangan berangan-angan untuk panjang umur..

* sebuah tulisan dari Syeikh Malaya 

3 sebab manusia tidak mampu melawan nafsu :
1. Tdk percaya pada Allah
2. Tdk yakin adanya akhirat
3. Terlalu cinta pd diri sendiri, keluarga / kelompoknya sendiri

Khitan anak, salah satu didikan

Pendidikan dimulai dari buaian sampai liang lahat. Begitu kata hadist. Sebagai orang tua, menjadi satu kewajiban untuk memastikan pendidikan bagi anak terpenuhi. Pendidikan itu meliputi seluruh aspek diri si anak. Dari fisik, akal, nafsu dan rohani si anak.

Khitan, adalah salah satu bentuk didikan fisik (syariat) bagi anak. Jika kita para orang tua, sanggup “tega” melakukan ritual ini meski sebagian kita tak sanggup untuk menyaksikan prosesi khitan tsb, bahkan sanggup menunda sampai anak-anak hampir baligh; sanggupkah kita para orang tua “tega” melakukan didikan juga terhadap unsur lain dari diri anak yaitu akal, nafsu dan rohani nya?

Nafsu yang tak terdidik menjadikan hati anak akan mati; hati mati hilanglah takut pada Tuhan. Berkuasa nafsu, maka akal akan digerakkan kepada hal2 yg negatif.  Tak mungkin ditemui akhlak mulia. Meski pun memiliki kecerdasan yg luar biasa…

Selamat Hari Ibu…..?

Sebagai seorang ibu (dan juga seorang muslimah), tentu peran, tanggung jawab dan perjuangan kita sangat besar. So…. mudah2an kita semua para ibu bisa menjalankan amanah ini dengan baik, ya…. Ayo ibu-ibu….. kita bangun bangsa ini dengan cinta dan takut pada Tuhan.. Semoga Rahmat dan Berkah senantiasa dilimpahkan pada kita. Sehingga terkabullah doa-doa kita semua. amin..

Bekal Ujian Adalah Iman

Berangkat dari sebuah kisah seorang kawan, yg menceritakan ttg seorang yg ibadahnya menurut dia luar biasa indah, ilmu agama pun bukan sedikit dia punya, tapi kenapa waktu diterpa ujian kalah juga? 

Iman adalah asas penting, yang menjadi landasan tempat berdirinya pribadi mukmin. Kalau manusia diibaratkan seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar tunjang untuk pohon itu. Kalau manusia diibaratkan seperti sebuah rumah, maka iman adalah tapak berdirinya rumah itu.

Begitulah pentingnya iman dalam usaha melahirkan seorang manusia yang sempurna dan diredhai Allah SWT. Tanpa iman, seseorang itu akan sama seperti pohon yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tidak memiliki pondasi. Artinya, seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan hidup. Dia pasti gagal.

Kalaupun ada tanda-tanda Islam melalui ibadah lahir, tetapi ibadah itu tidak akan berfungsi apa-apa sewaktu manusia yang tidak memiliki iman berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup. Semakin banyak ibadah, semakin cepat gagalnya, seperti halnya semakin besar pohon yang tidak berakar tunjang, maka semakin cepat tumbangnya atau makin besar rumah yang didirikan di atas lumpur, makin cepat robohnya.
Datang ujian kecil pun, orang yang tidak memiliki iman sudah goyang. Apalagi ketika berhadapan dengan ujian-ujian yang besar, hanyut dan tenggelamlah ia.

Sejarah telah membuktikan hal itu dalam berbagai bentuk. Seorang wali Allah dengan ‘karamah-karamah’ yang luar biasa, pengikut berpuluh ribu dan ibadah pun seperti ibadah nabi-nabi, tetapi di akhir hayatnya telah kafir karena telah berhasil ditipu oleh syaitan hanya dengan seteguk arak dan seorang wanita.

Islam dapat tegak dan kekar dalam pribadi atau masyarakat manusia hanya karena ada dan kuatnya iman. Tanpa iman yang kuat, Islam hanyalah satu simbol lahiriah yang diamalkan sebagai satu amalan tradisi dan kebiasaan semata-mata. Sebaliknya iman yang kuat akan menghasilkan pribadi yang benar-benar kuat dan Islami.
Islam adalah amalan lahir, Iman adalah amalan hati (batin). Kalau iman kuat, Islam pasti kuat. Tetapi kalau Islam yang kuat belum tentu imannya kuat. Mudah-mudahan kita tidak menjadi orang yang kuat beramal saja tetapi lemah imannya, sebaliknya mudah-mudahan kita menjadi orang yang kuat beriman dan kuat beramal. Allah menjanjikan keuntungan tertentu hanya bagi orang-orang yang beriman dan beramal.

Firman Allah SWT:”Demi masa, sesungguhnya manusia itu semuanya berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh”[Al 'Asr: 1-3]

Allah menyebutkan iman terlebih dahulu, sebagai syarat bahwa amalan yang diawali atau didorong dengan iman sajalah yang akan dinilai. Rasulullah turut mengingatkan itu dengan sabda baginda :
“Allah tidak melihat kepada rupamu dan hartamu (gambaran lahir) tetapi Dia melihat hati kamu dan amalan kamu”[Riwayat Muslim]

Sebanyak apapun amalan lahir seperti shalat, puasa, menutup aurat, zikir, doa, sedekah, berjuang dan berjihad tidak ada arti apa-apa di sisi Allah. Orang-orang yang beriman sudah tentu akan beramal. Tetapi orang yang beramal belum tentu benar-benar beriman. Dan orang lain yang tidak beramal sama sekali, tentu lebih lemah imannya atau tidak memiliki iman sama sekali. Sebab itu Allah sering mengingatkan bahwa amalan yang akan diterima-Nya hanyalah amalan dari orang-orang yang beriman.

Di antara firman-firman Allah yang menunjukkan demikian adalah :
“Maka siapa yang mengerjakan amal soleh, sedang ia beriman, maka usahanya itu tidak diabaikan dan sesungguhnya kami menuliskan amalan itu untuknya”[Al Anbia : 94]

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh, mereka itu penghuni Syurga, mereka kekal di dalamnya”[Al Baqarah : 82]

Orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau beramal adalah penipu. Orang yang beramal tapi tidak beriman adalah tertipu. Oleh sebab itu mari kita periksa hati kita sendiri, apakah beriman atau tidak. Cara pemeriksaan itu hendaknya sistematik dan ilmiah, bukan mengira-ngira tanpa panduan.

Iman menurut lughah (bahasa yang digunakan sehari-hari) berarti percaya. Sebab itu orang yang beriman dikatakan orang yang percaya. Siapa yang percaya maka dia dikatakan beriman. Tidak ada uraian tentang bagaimana cara dan syarat percaya yang dimaksud.

Yang kedua takrif (pengertian) iman menurut istilah syariat Islam adalah seperti disabdakan oleh Rasulullah SAW yang berbunya :
“Iman adalah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan dengan jasad (anggota lahir)”[At Tabrani]

Dengan Hadist itu kita diberitahu bahwa iman adalah keyakinan yang dibenarkan oleh hati, diucapkan dengan muluut (lidah) dan dibuktikan dengan amalan. Ringkasnya orang yang beriman adalah orang yang percaya, mengaku dan mengamalkannya. Tanpa ketiga syarat itu, orang itu belum tentu dikatakan memiliki iman yang sempurna. Bila satu dari tiga faktor itu tidak ada, maka dalam Islam orang itu akan dimasukkan ke dalam golongan lain, mungkin fasik, munafik atau kafir.

Mari kita lihat apa yang terjadi pada orang yang tidak memenuhi ke-3 syarat iman tersebut :
1. Seseorang yang beriman dengan ucapan “Lailahaillallah” dan memiliki keyakinan, tetapi tidak beramal atau amalannya tidak sempurna sebagaimana yang dikehendaki, dimasukkan dalam golongan mukmin yang fasik atau mukmin ‘asi (durhaka). Di akhirat nanti tempat mereka adalah Neraka. Bila iman yang dimiliki itu sah, maka masih ada peluang untuknya ke Syurga, setelah disiksa dengan siksaan yang pedih.

2. Seseorang yang memiliki keyakinan tetapi tidak mau mengikrarkan “Lailahaillallah” baik beramal atau tidak, dimasukkan kedalam golongan kafir. Ada juga qaul yang memasukkan mereka dalam golongan fasik. Tapi menurut qaul yang lebih kuat, mereka termasuk golongan kafir. Bila meninggal mereka tidak boleh dikuburkan di tanah pekuburan Islam, dan di akhirat nanti akan kekal tersiksa dalam Neraka.

3. Seseorang yang mengucapkan “Lailahaillallah”, kemudian beramal dengan segala tuntutannya (sedikit atau banyak) tetapi keyakinannya masih diliputi keragu-raguan, digolongkan sebagai orang munafik. Ragu-ragu yang dimasukkan di sini bukan saja pada Allah, tetapi mungkin pada Rasul, malaikat, kitab, hari Kiamat atau qadha dan qadar.

Apabila seseorang mengucapkan kalimat tersebut, maka ia menjadi seorang Islam. Tetapi belum bisa dikatakan beriman, walaupun ia mengerjakan shalat, puasa, zakat dan haji. Hal ini diberitahukan oleh Allah SWT melalui firman-Nya :
“Orang Arab Badwi itu berkata “Kami telah beriman,” Katakanlah (pada mereka), “Kamu belum beriman.” Tetapi katakanlah olehmu “Kami telah tunduk (Islam),” karena iman itu belum masuk kedalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala amalanmu), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[Al Hujurat : 14]

Dari ayat itu dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Seseorang yang Islam belum pasti beriman, tetapi orang yang beriman sudah pasti Islam.
2. Islam dapat diketahui melalui amalan-amalan lahir, sedangkan iman adalah amalan hati (batin).

*Dikutip dari “Catatan Kuliah Abuya”,
Semoga bermanfaat dan mendapat keberkahan…

Obama Umpan Yahudi

Siapa sangka dibalik meriahnya sambutan kepada Obama termasuk oleh sebuah sekolah di Indonesia yg beramai-ramai membuat program khusus dlm rangka menyambut kemenangan itu; ternyata adalah Perancangan Yahudi utk membaikkan image Amerika. Kenya yg jelas-jelas dulu membenci Amerika malah mengadakan libur nasional hari itu. Akhirnya hati dunia menjadi lunak pada Amerika. Hampir tidak ada yang sadari bahwa dia Cuma boneka saja. Termasuk Indonesia. hilanglah marah orang Indonesia hanya karena Abang Obama bisa bahasa Indonesia. Pernah tinggal dan sekolah di Betawi. Pernah punya ayah tiri orang Indonesia. Mudahnya mereka mengexploitasi emosi umat Islam.
Barulah kita tahu….Oo… rupanya kemaren-kemaren marahnya tuh bukan karena Tuhan / agama tapi emosi belaka..

Selamat Hari Raya Idul Adha

Semoga kita semua dianugerahi faham dan pandai mensyukuri hikmah idul kurban kali ini….

Tulisan Sebelumnya »